Real Exchange Rate Rupiah terhadap Dolar AS (2003 – 2007)

Screen Shot 2015-01-03 at 3.58.50 PM

Kelompok 2

Real exchange rate rupiah terhadap dolar AS mengalami peningkatan tajam pada akhir tahun 2003 dan awal tahun 2004. Inflasi Indonesia pada tahun 2003 merupakan inflasi terendah selama lima tahun terakhir (1998 – 2003), pada tahun tersebut tingkat inflasi tahunan mencapai 5.16%. Tetapi inflasi kembali meningkat pada tahun 2004, hal ini kemungkinan besar diakibatkan oleh lonjakan harga minyak dari $27.69 per barel menjadi $37.66 per barel, yang kemudian menyebabkan cost push inflation dan naiknya harga barang secara umum.

Di lain sisi, consumer price index di Amerika Serikat pada periode yang sama tidak mengalami fluktuasi yang terlalu signifikan. Inflasi relatif stabil jika dibandingkan dengan lonjakan inflasi di Indonesia pada tahun 2004. Oleh karena itu nilai IHK Indonesia relatif terhadap CPI Amerika Serikat mengalami penurunan drastis dari tahun 2003 ke 2004, sehingga real exchange rate rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi dari Rp.5.400/dolar AS menjadi Rp.14.055/dolar AS.

Perbandingan Ekspor & Impor Indonesia dan Perdagangan ASEAN terhadap PDB

Screen Shot 2015-01-03 at 3.54.24 PM

Perdagangan di Indonesia secara signifikan dipengaruhi oleh migas. Sampai tahun 2004, Indonesia merupakan eksportir minyak bumi. Dapat dilihat melalui grafik di atas, ekspor Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 1974, yang merupakan awal dari meningkatnya harga minyak akibat krisis minyak bumi pada tahun 1973. Pada tahun 1980, ekspor Indonesia kembali mengalami peningkatan yang signifikan akibat naiknya harga minyak yang diakibatkan oleh krisis minyak bumi yang berkelanjutan pada era 1970. Perbandingan ekspor terhadap PDB mencapai titik puncak pada tahun 1998, tetapi bukan dikarenakan meningkatnya ekspor namun karena penurunan PDB secara drastis akibat krisis moneter pada tahun tersebut. Impor di Indonesia memiliki tren yang relatif stabil, sejak tahun 1999, impor Indonesia berkisar antara 20-30% dari PDB. Pertumbuhan ekonomi memiliki peran yang cukup besar terhadap impor di Indonesia, hal ini disebabkan karena meningkatnya permintaan akan barang modal dan barang konsumsi. Pada tahun 2012, Indonesia mengalami defisit perdagangan yang terjadi akibat meningkatnya impor, terutama impor minyak bumi.

Screen Shot 2015-01-03 at 3.54.34 PM

Prosentase perdagangan terhadap PDB delapan negara ASEAN memiliki tren yang cukup beragam. Negara seperti Brunei Darussalam, Indonesia, Laos, dan Singapura tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan, Filipina dan Malaysia mengalami penurunan perdagangan yang cukup besar, sedangkan Vietnam dan Thailand mengalami peningkatan perdagangan yang cukup tinggi. Dari semua negara yang ada, tingkat rasio perdagangan terhadap PDB tertinggi terdapat di Singapura. Hal ini dikarenakan Singapura relies heavily on trade dalam perekonomiannya. Selain itu Singapura juga menjadi hub perdagangan bagi negara-negara tetangganya. Jika dibandingkan dengan tujuh negara lainnya, Indonesia memiliki PDB terbesar namun rasio perdagangan terhadap PDB-nya justru paling rendah. Hal ini dikarenakan sebagian besar PDB Indonesia digunakan untuk keperluan konsumsi.

Ekspor – Impor Indonesia & Jepang (2010)

Tugas-Inter-2---Amira-Zaranadia-(2)

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa impor Indonesia dari Jepang didominasi oleh mesin industri berat sedangkan ekspor Indonesia ke Jepang didominasi oleh bahan baku mentah. Temuan ini mengindikasikan bahwa Indonesia banyak mengim- por barang modal dari Jepang, yang produksinya memerlukan teknologi tingkat tinggi yang belum dikuasai oleh SDM Indonesia. Sedangkan dari sisi ekspor, dapat dilihat bahwa ekspor Indonesia masih terfokus pada barang tambang primer, hal ini disebabkan karena Indonesia belum memiliki teknologi untuk memroses barang primer dan memberikannya nilai tambah. Hal menarik lainnya yang bisa dilihat dari data di atas adalah adanya kegiatan ekspor-impor dalam produk yang sama, yakni barang elektronik serta suku cadangnya. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya pemecahan rantai produksi dimana perusahaan di Jepang mengalo- kasikan sebagian proses produksinya di Indonesia. Selain itu kita juga dapat melihat bahwa impor komoditas lebih besar totalnya ketika pengukuran dilakukan dengan HS-4, hal ini kemungkinan besar terjadi akibat komoditas yang dibicarakan tidak didekomposisi lebih lanjut di HS 4 sehingga totalnya secara keseluruhan melampaui sektor-sektor lain.

Amira Zaranadia (1206206865)

Pergerakan Rasio Export/GDP & Import/GDP Indonesia dan Perbandingan Rasio Trade/GDP Beberapa Negara ASEAN

rasio exporgdp imporgdp ind

Rasio Export/GDP dan Import/GDP Indonesia dari tahun 1960 sampai 2013 cenderung fluktuatif.  Ada masanya Indonesia mengalami current account surplus; yakni ketika jumlah ekspor lebih besar daripada impor, seperti yang terlihat pada tahun  1972-1982, 1987-1994, dan 1998-2011. Namun ada pula kalanya dimana Indonesia mengalami current account deficit; yakni ketika jumlah impor melebihi ekspor, seperti pada tahun 1966-1971, 1995-1997, dan 2012-2013. Terjadinya lonjakan impor tinggi di tahun 1966 disebabkan oleh naiknya impor beras. Di samping itu, pada dekade pertama setelah repelita tahun 1969, eksploitasi minyak dan gas bumi besar-besaran menjadikan ekspor Indonesia meningkat. Namun pada tahun 1981, ekspor menurun 15% akibat harga minyak dunia yang jatuh, sehingga kejadian ini disebut pertamina crisis. Ekspor pun terus menurun sampai tahun 1985 disebabkan penurunan perdagangan komoditas internasional, namun setelah itu meningkat lagi karena Indonesia telah berswasembada beras dan bahkan mampu menjadi eksportir beras. Sekitar tahun 1995-1997, terjadi resesi ekonomi dunia dan tight monetary policy sehingga saat itu Indonesia mengalami current account deficit. Tetapi hal yang menarik adalah pada krisis 1998, ekspor dan impor Indonesia melonjak tinggi bersamaan, hal ini disebabkan oleh GDP yang menyusut hingga +/-13% sehingga rasio keduanya pun meningkat. Setelah mengalami current account surplus dari 1998-2011; sembari tetap memiliki ekonomi yang kuat pada krisis 2008, Indonesia akhirnya kembali mengalami current account deficit mulai Triwulan-III 2011 hingga 2013.


rasio tradegdp asean

Perbandingan Rasio Trade/GDP Beberapa Negara ASEAN Tahun 2003 & 2013

Karena adanya keterbatasan data untuk rasio trade/GDP negara-negara ASEAN di periode terkini tahun 2013, maka dari total 10 negara di ASEAN, hanya 6 Negara yang rasionya dapat dibandingkan, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Rasio Trade/GDP menunjukkan tingkat keterbukaan perekonomian suatu negara dan sering digunakan untuk mengukur tingkat kepentingan transaksi internasional relatif terhadap transaksi domestik. Pada grafik tersebut Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki rasio di bawah 100%, hal ini mengindikasikan bahwa jika dibandingkan dengan negara sekawasan, pangsa ekspor dan impor dalam GDP Indonesia sesungguhnya masih rendah. Di samping itu, Singapura merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang memiliki rasio Trade/GDP di atas 300%, selain karena Singapura adalah satu-satunya negara maju di regional ASEAN, perdagangan luar negeri memang sangat diandalkan sebagai penggerak perekonomiannya. Jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu, hanya Brunei Darussalam dan Thailand yang rasio Trade/GDP-nya lebih tinggi di 2013 dibandingkan dengan tahun 2003, sementara Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Singapura memiliki rasio Trade/GDP lebih tinggi di tahun 2003 dibandingkan dengan tahun 2013. Hal ini menandakan bahwa Brunei Darussalam dan Thailand mendapati pengaruh perdagangan internasional yang lebih besar pada periode sekarang dibandingkan dengan 10 tahun lalu, dan hal sebaliknya terjadi pada Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Singapura yang mendapati pengaruh perdagangan internasional lebih besar di tahun 2003 dibandingkan 10 tahun setelahnya.

–Ayu Nugraini Soekoer (1206206751) Ilmu Ekonomi, FEUI.

Analisis Fluktuasi Nilai Tukar dan Indeks Harga Konsumen dari Indonesia dan Amerika Serikat pada Tahun 2010 hingga 2014

Disusun oleh:

Hazna Nurul Faiza (1206206562)

Iman Nurfakihiswara (1206248533)

Ismail Muharam (1206265804)

Opi Aristya (1206255646)

Qurani Natia (1206206644)

Nilai tukar atau exchange rate didefinisikan sebagai seberapa besar nilai suatu mata uang yang harus dikeluarkan untuk membeli satu unit nilai mata uang lainnya. Nilai tukar dikelompokkan menjadi dua, yakni nilai tukar nominal (nominal exchange rate) dan nilai tukar riil (real exchange rate). Nilai tukar nominal merupakan harga relatif antarmata uang dari dua negara. Sedangkan, nilai tukar riil atau real exchange rate merupakan nilai dari nilai tukar nominal yang telah disesuaikan dengan inflasi. Nilai tukar ini menggambarkan daya beli dari suatu mata uang. Nilai tukar yang menjadi acuan dalam kegiatan sehari-hari adalah nilai tukar nominal. Namun, materi pada artikel kali ini akan lebih memberikan pembahasan terkait nilai tukar riil.

Untitled 1

Untitled 2

Berdasarkan grafik antara nilai tukar nominal dan nilai tukar riil antara Rupiah dan USD, nilai tukar riil dari Rupiah cenderung lebih tinggi dibandingkan nilai tukar nominalnya. Hal ini disebabkan oleh tingkat harga rata-rata barang dan jasa di Amerika Serikat lebih tinggi daripada di Indonesia. Perbedaan harga tersebut juga dapat diamati dari grafik indeks harga konsumen antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Apabila diamati dari pergerakan nilai tukar riil selama tahun 2010 hingga tahun 2012, tren dari nilai tukar riill Rupiah terhadap USD mengalami penurunan selama 2010 hingga 2011 dan cenderung mengalami kenaikan selama tahun 2011 hingga tahun 2012. Nilai tukar riil yang mengalami penurunan dapat mengindikasikan beberapa hal. Pertama, nilai mata uang dalam negeri mengalami apresiasi, kedua, harga rata-rata domestik (yang diukur menggunakan indeks harga konsumen) mengalami  kenaikan sehingga menjadi relatif lebih mahal daripada luar negeri, atau harga rata-rata luar negeri yang mengalami penurunan . Sebaliknya, nilai tukar riil yang mengalami peningkatan, hal itu dapat diakibatkan oleh depresiasi nilai mata uang dalam negeri, peningkatan harga rata-rata di luar negeri, atau penurunan harga rata-rata di dalam negeri.

Tren penurunan nilai tukar riil mata uang Indonesia terhadap USD pada tahun 2010 hingga tahun 2012 disebabkan oleh apresiasi nilai tukar Rupiah terhadap USD, bukan akibat perubahan rata-rata harga dari kedua negara karena indeks harga konsumen dari kedua negara cenderung stabil atau konstan. Apresiasi nilai tukar rupiah terhadap USD yang terjadi pada tahun 2010 hingga tahun 2011 disebabkan oleh derasnya arus modal masuk ke negara Indonesia akibat penerapan quantitative easing atau salah satu kebijakan moneter dari Amerika Serikat yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya dengan cara menurunkan tingkat suku bunga domestik hingga mendekati angka nol sehingga diharapkan menambah jumlah uang yang beredar. Dengan menurunnya tingkat suku bunga di Amerika Serikat hingga hampir mencapai titik nol, maka investor menarik uangnya dari Amerika Serikat dan menginvestasikannya pada negara lain yang dianggap lebih prospektif dalam memberikan return yang lebih tinggi, salah satu negara tersebut adalah Indonesia. Peningkaatan arus modal yang masuk ke Indonesia tentunya meningkatkan permintaan akan mata uang Rupiah sehingga mata uang Rupiah mengalami apresiasi. Selain itu, apresiasi dari Rupiah juga disebabkan oleh surplus neraca perdagangan yang dialami Indonesia pada tahun 2010 hingga 2011. Alhasil, apresiasi dari Rupiah menyebabkan nilai tukar riil dari Rupiah terhadp USD mengalami penurunan dan Rupiah mengalami peningkatan daya beli.

Stabilnya nilai tukar nominal yang berada di kisaran Rp.9000-Rp10.000 hanya berlangsung hingga akhir tahun 2013, setelah itu nilai tukar mulai mulai melemah dan menyentuh angka diatas Rp.10.000 hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, peningkatan suku bunga The Fed, yang menyebabkan arus modal yang ada di Indonesia berkurang (capital outflow) karena investor berpandangan bahwa menginvestasikan modalnya di Amerika akan memberikan return yang tinggi sehingga permintaan akan rupiah berkurang dan rupiah mengalami depresiasi, selain itu penybab lain terdepresiasinya rupiah dikarenakan Indonesia sedang memasuki tahun politik pemilihan presiden, dimana situasi politik di indonesia yang masih tidak stabil, juga menjadi pertimbangan para investor untuk menaruh modalnya, sehingga investor cenderung “wait and see” untuk melihat perkembangan politik di Indonesia.

Ekspor – Impor Indonesia

Penulis: Iman Nurfakihiswara – 1206248533

Tugas

Grafik di atas menunjukkan tren pergerakan impor dan ekspor barang dan jasa Indonesia (dalam persentase terhadap GDP) dimulai pada tahun 1960 sampai tahun 2012. Terlihat pada grafik secara garis besar bahwa tren pergerakan dari impor selalu mengikuti ekspor atau saling menyerupai, yaitu ketika impor naik maka ekspor juga naik. Hal ini rasional ketika pemerintah ingin menambah jumlah barang impor maka pemerintah juga harus meningkatkan penjualan barang ekspor agar tidak terjadi defisit neraca perdagangan. Pada tahun 1966 impor meningkat tajam didominasi oleh beras karena pemerintahan saat itu ingin memperkuat ketahanan pangan, namun setelah itu ekspor menurun akibat kehilangan pangsa pasar untuk komoditas seperti gula dan karet.
Sejak akhir tahun 1970an hingga awal 1980an total ekspor maupun total impor mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini didorong oleh terjadinya oil boom akibat adanya konflik di Timur Tengah. Oil boom pada periode 1970-1980 terjadi sebanyak dua kali. Selama periode 1970-1974 harga minyak melonjak dari $1.67/barrel menjadi $11.70/barrel. Kemudian periode kedua terjadi pada tahun 1979-1982, harga minyak yang telah mencapai $15,65/barrel naik menjadi 29,50/barrel pada tahun 1980. Kemudian pada tahun 1982 harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan harga mencapai $35.00/barrel (Bappenas). Kenaikkan harga minyak dunia mendorong peningkatan nilai ekspor secara signifikan pada tahun 1980. Hal ini terjadi karena pada masa itu ekspor Indonesia masih tergantung pada sektor migas. Akibat kenaikan ekspor tersebut maka pendapatan nasional meningkat, daya beli masyarakat terhadap barang impor juga meningkat sehingga terlihat pada tahun 1982 impor mengalami peningkatan yang besar. Pada tahun 1986 terjadi penurunan harga minyak dunia yang cukup drastis, selama enam bulan harga minyak turun sebesar 2/3 dari harga awal (Lewis, 1994). Total ekpor pun mengalami penurunan tajam pada tahun 1986. Sejak saat itu pemerintah mulai berusaha mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari minyak. Jika sebelumnya kebijakan bersifat inward-looking melalui substitusi impor, maka setelah oil boom berakhir, kebijakan perdagangan bersifat outward-looking dengan melakukan promosi ekspor (Roemer, 1994). Setelah oil boom komposisi ekspor non migas mengalami peningkatan. Industrialisasi dan promosi ekspor yang dilakukan membuat nilai total ekspor 1987-1990 terus mengalami peningkatan. Pada periode yang sama nilai impor juga mengalami peningkatankarena sebagian besar industri yang dikembangkan mengandalkan bahan baku impor (Widarjono, 2004). [1]

Pada periode 1997-1999 saat terjadinya krisis moneter di kawasan Asia, Komoditi-komoditi ekspor nonmigas hasil-hasil industri, termasuk hasil industri sedang, kecil dan kerajinan tangan mengalami peningkatan ekspor yang sangat pesat. Komoditas pertambangan yang meningkat tinggi dalam tahun 1998/1999 adalah batubara dan emas. Impor Indonesia juga meningkat tajam pada periode tahun 1998. Hal tersebut akibat dari impor makanan dan minuman olahan dalam dalam kelompok barang konsumsi pada periode Januari – November 1998 sebesar US$ 853,6 juta, atau meningkat sebesar 620% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (data Bappenas). Peningkatan ini terutama disebabkan oleh sempat melemahnya nilai rupiah, sehingga kegiatan impor lebih menguntungkan daripada memproduksi pangan olahan.[2]

Tugas_2

Grafik diatas menunjukkan bahwa tingkat merchandise trade Indonesia masih jauh tertinggal dari beberapa negara ASEAN lainnya. Bahkan merchandise trade Indonesia menurun dari saat tahun 2002 dan Laos yang saat tahun 2002 lebih rendah namun saat ini dapat melampaui Indonesia. Singapura merupakan negara di ASEAN dengan tingkat merchandise trade tertinggi, diikuti oleh Vietnam, Malaysia, dan Kamboja.

[1]http://advinternationaleconfeui.wordpress.com/2012/11/26/total-ekspor-dantotal-impor-indonesia-1975-1990-2/
[2]http://advinternationaleconfeui.wordpress.com/2012/11/27/exportgdp-vs-importgdp-indonesia-yearly-1990-2011/

5 Kontribusi Ekonomi dari Pemenang Nobel Jean Tirole

Penulis: Iman Nurfakihiswara – 1206248533

Tahun ini Sveriges Riksbank, penghargaan dalam ilmu ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel pergi ke seorang penerima, Jean Tirole dari Toulouse University di Perancis. Penghargaan diberikan kepada Tirole atas kontribusi terhadap studinya mengenai kekuatan dan regulasi pasar.

Tirole telah menghabiskan selama 30 tahun terakhir dan telah diberikan penghargaan untuk penelitian ekonomi mikronya yang mempelajari bagaimana sejumlah perusahaan besar dapat mendominasi pasar yang berakibat terhadap kerusakan, maka dari itu harus ada sebuah aturan. Baca lebih lanjut